Sabtu, 10 Desember 2011

Opex Slideshow & Video

Opex Slideshow & Video: TripAdvisor™ TripWow ★ Opex Slideshow Slideshow ★ untuk Solo. Slideshow perjalanan gratis yang Menakjubkan di TripAdvisor

Jumat, 09 Desember 2011

Opex Slideshow Slideshow

Opex Slideshow Slideshow: TripAdvisor™ TripWow ★ Opex Slideshow Slideshow ★ untuk Solo. Slideshow perjalanan gratis yang menakjubkan di TripAdvisor

Seorang Laki-Laki yang Menolong Seekor Anjing

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), "Ketika seorang laki-laki dalam perjalanan, ia kehausan. Ia masuk ke dalam sumur yang curam, lalu minum di sana. Kemudian ia keluar, tiba-tiba ia mendapati seekor anjing di luar sumur yang sedang menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat tanah lembab karena kehausan. Orang itu berguman, 'Anjing ini telah merasakan apa yang baru saja saya rasakan.' Kemudian, ia kembali turun ke sumur dan memenuhi sepatunya dengan air, lalu membawanya naik dengan menggigit sepatu itu. Sesampainya di atas ia minumi anjing tersebut. Karena perbuatannya tadi, Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya. Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah kalau kami mengasihi binatang, kami mendapatkan pahala? Beliau bersabda, 'Berbuat baiklah kepada setiap makhluk, pasti kamu akan mendapatkan pahala'." (HR Bukhari dan Mulsim)


Ternyata di dalam Islam tidak ada ruginya berbuat baik kepada sesama makhluk. Meskipun terhadap seekor anjing, bukan berarti harus berbuat semena-mena. Bahkan, ketika dihadapkan pada suatu keadaan yang membuat seokor anjing itu perlua ditolong, seseorang hendaknya menolongnya. Karena, perbuatan baik itu akan dibalas oleh Allah dengan imbalan yang berlipat ganda. Mengapa berlipat ganda? Coba Saudara bayangkan, hanya menolong seekor anjing dengan sedikit air saja, Allah kemudian berterima kasih dan mengampuni dosa-dosa orang tersebut. Bukankah itu imbalan yang berlipat ganda? Oleh karena itu, tidak ada ruginya berbuat baik kepada sesama makhluk hidup.

Oleh: Ainul Kholish http://alislamu.com/kisah-islami/25-kisah-islami/1104-seorang-laki-laki-yang-menolong-seekor-anjing.html

Akhir Cerita Si Belang, Si Botak, dan Si Buta

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil yang belang, botak, dan buta. Allah bermaksud menguji mereka, maka Allah mengutus malaikat kepada mereka.


Malaikat itu datang kepada Si Belang dan bertanya, 'Apakah sesuatu yang paling engkau inginkan?'
Si Belang menjawab, 'Saya menginginkan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku.'
Maka, malaikat itu lantas mengusap Si Belang. Seketika itu hilanglah penyakit yang menjijikkan itu serta ia diberi paras yang tampan dan kulit yang bagus.
Malaikat itu bertanya lagi, 'Harta apakah yang paling engkau senangi?'
Si Belang menjawab, 'Unta (atau ia mengatakan sapi).'
Kemudian, ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan, dan malaikat tadi berkata, 'Semoga Allah memberi berkah dan rahmat atas apa yang engkau terima.

Kemudian, malaikat itu datang kepada Si Botak dan bertanya, 'Apakah sesuatu yang paling engkau inginkan?'
Si Botak menjawab, 'Rambut yang rapi dan hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku ini.'
Malaikat lantas mengusap Si Botak dan seketika hilanglah penyakit dan tumbuh rambut yang rapi sebagai gantinya.
Malaikat itu bertanya lagi, 'Harta apakah yang paling engkau senangi?'
Si Botak menjawab, 'Sapi.' Kemudian ia diberi sapi yang sedang bunting, dan malaikat tadi berkata, ''Semoga Allah memberi berkah dan rahmat atas apa yang engkau terima.'

Kemudian, malaikat itu datang kepada Si Buta dan bertanya, 'Apakah sesuatu yang paling engkau inginkan?'
Si Buta menjawab, 'Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang. Malaikat lantas mengusap Si Buta dan Allah mengembalikan penglihatannya.
Malaikat itu bertanya lagi, 'Harta apakah yang paling engkau senangi?'
Si Buta menjawab, 'Kambing.' Kemudian, ia diberi kambing yang sedang bunting.

Lama kelamaan unta, sapi, kambing yang telah diberikan kepada ketiga orang tersebut berkembang biak, dan unta tersebut memenuhi satu lapangan, begitu pula sapi dan kambing. Pada suatu waktu malaikat datang kepada Si Belang dan menyamar sebagai orang yang berpenyakit belang seperti keadaan Si Belang pada awalnya sambil berkata, 'Saya adalah seorang miskin dan telah kehabisan bekal di tengah perjalanan ini, dan sampai hari ini tidak ada harapanku kecuali hanya kepada Allah, kemudian kepadamu. Saya benar-benar meminta pertolongan kepadamu dengan menyebut Dzat yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang halus serta harta kekayaan, saya meminta kepadamu seekor unta untuk bekal melanjutkan perjalanan saya.'
Si Belang menjawab, 'Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak dan saya tidak bisa memberi bekal apa-apa.'
Malaikat itu berkata, 'Kalau tidak salah saya pernah kenal denganmu, bukankah kamu dulu orang yang mempunyai sakit belang dan orang-orang jijik kepadamu, dan bukankah kamu dulu orang yang miskin, lalu Allah memberi rahmat kepadamu?'
Si Belang berkata, 'Sesungguhnya saya mempunyai harta kekayaan ini dari nenek moyang.'
Malaikat berkata, 'Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaanmu semula.'

Kemudian, malaikat datang kepada Si Botak dengan menyerupai orang yang berpenyakit botak seperti keadaan Si Botak waktu itu, dan berkata seperti apa yang dikatakannya kepada Si Belang. Si Botak juga menjawab seperti Si Belang, kemudian malaikat itu berkata, 'Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaanmu semula.'

Malaikat melanjutkan perjalanannya ke tempat Si Buta dengan menyerupai orang yang buta seperti keadaan Si Buta waktu itu, dan berkata, 'Saya adalah orang yang miskin, saya telah kehabisan bekal di tengah-tengah perjalanan ini dan tidak ada lagi harapanku kecuali kepada Allah, kemudian kepadamu. Saya benar-benar minta pertolongan kepadamu dengan menyebut Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu, yaitu saya meminta satu ekor kambing untuk bekal di dalam melanjutkan perjalanan saya.'
Si Buta menjawab, 'Saya dulu adalah orang buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya, dan dulu saya orang miskin, kemudian Allah memberi kekayaan seperti ini. Maka, ambillah apa yang kamu inginkan. Demi Allah, sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kamu ambil karena Allah.'
Malaikat itu berkata, 'Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu hanyalah diuji dan Allah benar-benar ridha terhadap kamu dan Allah telah memurkai kepada kedua kawanmu'." (HR Bukhari dan Muslim).

Dari ketiga orang yang mendapatkan ujian dari Allah SWT itu, akhirnya hanya satu yang lulus menghadapi ujian dari Allah SWT. Adapun yang dua orang tidak lulus. Keduanya itu ialah Si Belang dan Si Botak. Keduanya tidak bersyukur setelah diberi kekayaan yang melimpah dan kesembuhan dari segala penyakitnya. Keduanya lupa bahwa awalnya tidak lain adalah orang-orang yang hidupnya sering dilecehkan dalam kehidupan bermasyarakat karena penyakit yang dideritanya. Kemudian, setelah sembuh dari penyakitnya dan harta mulai mendekatinya hingga menjadi orang yang kaya raya, mereka lupa kepada Allah SWT. Keduanya kikir atas hartanya yang melimpah ruah itu. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang datang meminta pertolongan itu memiliki doa yang sangat makbul. Ketika mereka tidak mamu menolongnya, keluarlah doa dari orang yang meminta pertolongan itu, yang tidak lain adalah malaikat yang diutus oleh Allah. Doa dari malaikat yang menyamar itu makbul, dan akhirnya kedua orang yang diuji itu menjadi seperti semula: berpenyakitan dan jatuh dalam kemiskinan.

Yang lulus menghadapi ujian ialah Si Buta, orang yang dengan pertolongan Allah SWT kemudian menjadi tidak buta dan diberi harta kekayaan yang melimpah. Meski sudah berubah, ia tetap bersyukur kepada Allah dan mau membantu sesama orang yang sedang kesulitan. Terbukti ketika Allah SWT mengujinya dengan didatangi malaikat yang menyamar menjadi manusia yang lemah dan meminta tolong, ia mau menolongnya dengan ikhlas karena Allah semata.

Oleh: Ainulkholis http://alislamu.com/kisah-islami/25-kisah-islami/1103-akhir-cerita-si-belang-si-botak-dan-si-buta.html

Takut Akan Siksa Api Neraka (2)

Bab Kedua: Takut dari siksaan Neraka dan kondisi orang yang takut

Allah Ta'ala berfirman:


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ


"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun," (Ali-Imran: 190-192).


قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


"Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (Ali-Imran: 15-16).


وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا


"Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan," (Al-Furqan: 63).


إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا


"Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman," (Al-Furqan: 65).


وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ


"Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya," (Al-Isra': 57).


وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ


"Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabb nya," (Al-Ma'arij: 27).


ذَٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ


"Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku," (Ibrahim: 14).


وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ


"Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata: Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka," (At-Thur: 25-27).

Ibrahim At-Taimi berkata, "Bagi orang yang belum memiliki rasa takut, hendaknya ia khawatir bila dirinya termasuk dari penghuni neraka, karena penghuni surga mereka berkata:


وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ


"Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri," (Fathir: 35).

Dan barangsiapa yang belum memiliki rasa takut hendaknya ia khawatir bila dirinya tidak akan termasuk dari penghuni surga, karena mereka berkata:


إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ


"Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)," (At-Thur: 26).

Nabi saw. sendiri seringkali berlindung dari siksa neraka dan memerintahkan untuk berlindung darinya, baik dalam shalat ataupun pada selainnya. Hadits-hadits dalam hal itu sangat banyak.

Anas berkata, "Do'a yang paling banyak dipanjatkan oleh Nabi saw. adalah:


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka," (Al-Baqarah: 201)." (HR. Bukhari).

Dan di dalam kitab An-Nasa'i diriwayatkan, dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya ia mendengar Nabi saw. bersabda:


اللهم إني أعوذ بك من حر جهنم


"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari panasnya neraka Jahannam."

Dari Jabir bahwa Nabi saw. bertanya kepada seseorang, "“Do'a apa yang engkau baca di dalam shalat?" Seseorang itu pun menjawab:


أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ أَمَا إِنِّى لاَ أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ


“Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan 'Allahumma inni as-alukal jannah wa a'udzu bika minannar' (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu'adz”, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka),” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Al-Bazar meriwayatkan dengan lafalnya:


و هل أدندن أنا و معاذ إلا لندخل الجنة و نعاذ من النار


"Dan apakah dengan saya dan Mu'adz mendengungkannya melainkan kami akan dimasukkan ke dalam surga dan dilindungi dari Neraka?"

Dan diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dengan sanad mungqathi' (terputus), dari Salim Al-Anshari, bahwa Nabi saw. bertanya kepadanya, "Apa yang engkau baca dari Al-Qur'an?" Salim pun menjawab:


إني أسأل الله الجنة و أعوذ به من النار و الله ما أحسن دندنتك و لا دندنة معاذ فقال النبي صلى الله عليه و آله و سلم : و هل تصير دندنتي و دندنة معاذ إلا أن نسأل الله الجنة و نعوذ به من النار ؟ !


"Sesungguhnya aku memohon kepada Allah surga dan aku berlindung kepada-Nya dari Neraka. Demi Allah, aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau dan Mu'adz mendengungkannya." Kemudian Nabi saw. bersabda, "Tidaklah aku dan Mu'adz mendengungkannya kecuali kami memohon kepada Allah surga dan kami berlindung dari neraka?!"

Dan kami meriwayatkan (Ibnu Raja Al-Hanbali), dari hadits Suwaid bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah dari Zaid bin Aslam dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw. bersabda:


إنما يدخل الجنة من يرجوها و يجنب النار من يخافها و إنما يرحم الله من يرحم


"Sesungguhnya yang akan masuk surga adalah orang yang mengharapkannya dan akan dijauhkan dari Neraka orang yang takut kepadanya, dan sesungguhnya Allah mengasihi orang juga mengasihi (orang lain)."

Abu Nu'aim meriwayatkan:


و إنما يرحم الله من عباده الرحماء


"Sesungguhnya Allah mengasihi dari hamba-hambanya yang pengasih."

Umar pernah berkata:


لو نادى منادي من السماء : أيها الناس إنكم داخلون الجنة كلكم إلا رجلا واحدا لخفت أن أكون أنا هو


"Kalaulah ada penyeru dari langit yang menyerukan: wahai manusia, sesungguhnya kalian semua akan masuk surga kecuali seorang lelaki, maka sungguh aku khawatir dia adalah aku," (HR. Abu Nu'aim).

Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Abdullah bin Ar-Rumi berkata, telah sampai kepadaku bahwa Utsman r.a. berkata:


لو أني بين الجنة و النار ـ و لا أدري إلى أيتهما يؤمر بي ـ لا خترت أن أكون رمادا قبل أن أعلم إلى أيتها أصير


"Kalaulah aku berada di antara surga dan neraka -sementara aku tidak tahu kemana aku diperintahkan- maka sungguh aku akan memilih untuk menjadi abu sebelum aku mengetahui ke mana aku akan berada."

(Artikel diterjemahkan oleh team redaksi www.alislamu.com dari kitab At-Takhwif minan Naar wat Ta'rifu bi haali daril bawwar karya Ibnu Rajab Al-Hanbali. Penerbit: Maktabah Daarul Bayan - Damasykus. Cet: 1/1399).

Takut Akan Siksa Api Neraka (1)

Bab Petama: Mengingat Neraka dan Waspada Terhadapnya

Allah Ta'ala berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ


"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan," (At-Tahrim: 6).


فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَ الْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ


"Maka takutlah kamu kepada neraka yang menyalakannya ialah manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir," (Al-Baqarah: 24).


وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ


"Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir," (Ali-Imran: 131).


فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى


"Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala," (Al-Lail: 14).


لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ


"Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku," (Az-Zumar: 16).


وما هي إلا ذكرى للبشر * كلا والقمر * والليل إذ أدبر * والصبح إذا أسفر * إنها لإحدى الكبر * نذيرا للبشر * لمن شاء منكم أن يتقدم أو يتأخر


"Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah berlalu, dan subuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur," (Al-Mudatsir: 31 - 37).

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, terkait firman Allah Ta'ala { نَذِيرًا لِلْبَشَرِ } Al-Hasan berkata, "Demi Allah, ini adalah ancaman terburuk yang diberikan Allah atas hamba-Nya."

Mengomentari firman Allah Ta'ala: [ إِنَّهَا لإحْدَى الْكُبَرِ ] Qatadah berkata, "Yaitu neraka."

Diriwayatkan oleh Samak bin Harab, ia berkata, "Saya telah mendengar An-Nu'man bin Basyir berkhutbah dan berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Kami peringatkan kalian dengan api neraka, kami peringatkan kalian dengan api neraka.' Kalaulah ada seorang lelaki di pasar, pasti ia akan mendengar peringatan tersebut," (HR. Ahmad).

Diriwayatkan juga oleh Ahmad, dari Nu'man bin Basyir berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Kami peringatkan kalian dengan neraka, kami peringatkan kalian dengan neraka." Seandainya ada seseorang berada di pasar yang paling jauh sekalipun maka pastilah ia akan mendengarnya, dan para penghuni pasarpun akan mendengar suaranya, sementara beliau berada di atas mimbar."

Ahmad juga meriwayatkan, dari Samak berkata, "Saya mendengar Nu'man berkhutbah dengan memakai gamis, ia berkata, saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Saya peringatkan kalian dengan api neraka, saya peringatkan kalian dengan api neraka." Seandainya ada seseorang yang berada di tempat begini dan begini, pastilah ia akan mendengar suaranya."

Dan diriwayatkan dari 'Adi bin Hatim, ia berkata, bersabda Rasulullah saw., "Takutlah kalian dengan api neraka." Ia berkata, Beliau lalu berpaling dan menyembunyikan wajahnya serta bersabda lagi, "Takutlah kalian dengan api neraka." Kemudian beliau berpaling sambil menyembunyikan wajahnya hingga tiga kali hingga kami mengira bahwa beliau melihat neraka tersebut. Kemudian beliau bersabda:


اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ


'Jauhilah neraka walaupun dengan bersedekah sebelah butir kurma, maka siapa saja yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan kata-kata yang baik'." (HR. al-Bukhari, Kitab az-Zakah, Bab ash-Shadaqah Qabla ar-Raddi, 3/281, no. 1413; dan Muslim, Kitab az-Zakah, Bab al-Hatsu ala ash-Shadaqah, 2/703, no. 1016.)

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang di dalamnya terdapat musnid yang jahalah (tidak diketahui), dari Anas dari Nabi saw. bersabda:


يا معشر المسلمين ارغبوا فيما رغبكم الله فيه و احذروا و خافوا ما خوفكم الله به من عذابه و عقابه و من جهنم فإنها لو كانت قطرة من الجنة معكم في دنياكم التي أنتم فيها حلتها لكم و لو كانت قطرة من النار معكم في دنياكم التي أنتم فيها خبثتها عليكم


"Wahai seluruh kaum muslimin berharaplah terhadap apa-apa yang Allah harapkan atas kalian, dan jauhi serta takutlah terhadap apa yang ditakutkan Allah atas kalian dari adzab-Nya dan hukuman-hukman Allah dan juga jahanam, sesungguhnya kalau satu tetes kenikmatan dari surga di jatuhkan di atas dunia maka akan menjadikan indah dunia ini dan apabila satu percik api neraka dipercikan ke dalam dunia ini maka akan menjadikan dunia yang kalian tempati ini rusak."

Dan di dalam Shahihain, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda:


إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ أُمَّتِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَتِ الدَّوَابُّ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهِ فَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ وَأَنْتُمْ تَقَحَّمُونَ فِيهِ


"Sesungguhnya perumpamaanku dan umatku laksana seorang lelaki yang menghidupkan api,lalu laron–laron dan serangga–serangga berjatuhan kepadanya. Aku pegang tempat ikatan sabukmu, sedang kamu mau masuk ke dalam api."

Dan dalam riwayat Muslim:


حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ النَّاسِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي تَقَعُ فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا فَجَعَلَ يَنْزِعُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيهَا فَأَنَا آخُذُ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ وَهُمْ يَقْتَحِمُونَ فِيهَا


"Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah memberitakan kepada kami Syu'aib telah memberitakan kepada kami Abu Az Zanad dari Abdurrahman bahwasanya ia menceritakan kepadanya, ia mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan diriku dan perumpaman manusia yang kuda'wahi adalah bagaikan seseorang yang menyalakan api (lampu), dikala api itu menyinari sekelilingnya, menjadikan serangga-serangga dan hewan menuju api itu, kemudian orang tersebut menarik serangga-serangga tetapi mereka menuju kepadanya dan terjerumuskan dalam api, maka akulah yang menarik ikat pinggang kalian dari api, ketika mereka terjerumus didalamnya."

Dan di dalam riwayat Imam Ahmad: "Perumpamaanku dan perumpamaan kalian -wahai sekalian umat- adalah seperti seseorang yang menyalakan lampu di malam hari, lantas serangga-serangga dan hewan-hewan lainnya pun mendatanginya dan dan mengelilingi api tersebut, kemudian orang tersebut menarik serangga-serangga itu, tapi mereka justru menuju kepadanya dan terjerumus dalam api maka aku pun menarik sabuk kalian dan menyeru kalian ke dalam surga..."

Dan di dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah berkata, ketika turun ayat ini:

{ و أنذر عشيرتك الأقربين }


“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara`: 214)

Rasulullah saw. lantas mengumpulkan keluarga beliau dari suku Quraisy lalu bersabda:


يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي هَاشِمٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنْ النَّارِ فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا


"Wahai Bani Ka'ab bin Luay! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Murrah bin Ka'ab! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Abdu Syams! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Abu Manaf! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Hasyim! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai bani Abdul Muthalib! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fathimah binti Muhammad! Selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak memiliki (kekuatan untuk) menolak siksaan Allah kepadamu sedikit pun, selain kalian adalah kerabatku, maka aku akan menyambung tali kerabat tersebut.” (HR. Muslim no. 303)

Dan diriwayatkan oleh Thabrani dan selainnya, dari jalur Ya'la bin Al-Asydaq dari Kulaib bin Hazan berakta, saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda:


اطلبوا الجنة جهدكم و اهربوا من النار جهدكم فإن الجنة لا ينام طالبها و إن النار لا ينام هاربها و إن الآخرة اليوم محفوفة بالمكاره و إن الدنيا محفوفة باللذات و الشهوات فلا تلهينكم عن الآخرة


"Wahai kaum! Mintalah surga sekuat kemampuanmu dan larilah dari neraka sekuat tenagamu karena orang yang mengharapkan surga tidak akan tidur dan orang yang lari dari neraka tidak akan tidur. Sesungguhnya akhirat hari ini dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci, sedangkan dunia dikelilingi dengan kelezatan dan kenikmatan maka jangan sampai melupakan kalian dari akhirat."

Riwayat ini juga diriwayatkan dari Ya'la bin Alasydaq dari Abdullah bin Jarrad dari Nabi saw., namun hadits-hadits Ya'la bin Alasydaq batil dan mungkar.

Dan diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari hadits Yahya bin Abdullah dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi saw. bersabda:


مَا رَأَيْتُ مِثْلَ الْجَنَّةِ ، نَامَ طَالِبُهَا . وَلَا مِثْلَ النَّارِ نَامَ هَارِبُهَا


"Tidaklah tidur orang yang mengharapkan surga dan tidaklah tidur orang yang ingin lari dari neraka."

Yahya adalah perawi yang banyak didhaifkan. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Mardawiyah dari sisi lain dan sanadnya sampai kepada Abu Hurairah. Thabrani pun meriwayatkan hal yang serupa dengan sanad yang masih perlu ditinjau, dari Anas dari Nabi saw. Diriwayatkan juga oleh Ibnu 'Ady dengan sanad dari Umar r.a, dari Nabi saw.

Yusuf bin Athiyah berkata, dari Al-Mu'allimi bin Ziyad: adalah Haram bin Hayyan keluar di sebagian malam dan berteriak dengan suaranya yang keras, "Sungguh begitu ta'ajubnya (indahnya) surga, lantas bagaimana orang yang menginginkannya bisa tidur? Dan sungguh ta'ajubnya (mengerikannya) neraka, lantas bagaimana orang yang ingin lari darinya bisa tidur? kemudian ia membaca firman Allah:


أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ


"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (Al-A'raaf: 97)."

Abu Al-Jauza' berkata, "Kalaulah aku memimpin suatu urusan manusia maka aku akan buat sebuah menara tinggi di jalan dan aku perintahkan seseorang untuk berada di atasnya dan menyeru manusia, "Neraka! neraka!" (HR Imam Ahmad dalam kitab Az-Zuhd)

Dan diriwayatkan juga oleh anaknya, Abdullah dalam kitab ini juga dengan sanad dari Malik bin Dinar berkata, "Kalaulah aku menjadi pemimpin maka aku akan berseru di atas menara Bashrah pada malam hari, neraka! neraka!." Kemudian ia berkata, "Kalaulah aku berada di tengah-tengah kelompok mereka maka aku akan berada di menara dunia (dan berseru), wahai manusia, neraka! neraka!."

Bersambung...


(Artikel diterjemahkan oleh team redaksi www.alislamu.com dari kitab At-Takhwif minan Naar wat Ta'rifu bi haali daril bawwar karya Ibnu Rajab Al-Hanbali. Penerbit: Maktabah Daarul Bayan - Damasykus. Cet: 1/1399).

5 Kaedah Pernikahan





Judul di atas disarikan dari firman Allah swt yang terdapat dalam surat Ar-Rum, ayat 21 :
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
” Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mau berfikir. “
Ketika kita menghadiri resepsi pernikahan, ayat di atas adalah ayat yang paling sering dibacakan oleh qari’ yang ditugaskan melantunkan ayat-ayat Al Qur’an untuk memulai acara resepsi. Para pembicarapun tidak pernah bosan-bosannya menyebut ayat tersebut sebelum memulai ceramahnya untuk menasehati kedua penganten. Maka, sangat penting sebagai seorang muslim yang akan melangsungkan pernikahan ataupun yang sudah menikah untuk merenungi kembali ayat di atas secara lebih seksama. Ayat di atas walaupun singkat dan pendek akan tetapi mengandung pelajaran yang sangat banyak dan bermanfaat, dan selanjutnya bisa kita jadikan pedoman di dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Dari ayat di atas, paling tidak, kita bisa mengambil lima faedah, yang untuk lebih mudahnya kita sebut sebagai lima kaedah pernikahan. Lima kaedah ini akan kita bahas satu persatu dalam tulisan ini.
Kaedah Pertama :
Bahwa pernikahan yang berlangsung antara laki-laki dan perempuan adalah salah satu tanda kekuasaan Allah swt. Artinya bahwa semua pernikahan yang terjadi adalah atas izin Allah swt. Ini yang harus diyakini oleh setiap muslim, terutama yang masih bujang dan mempunyai rencana untuk menikah. Hal ini sangat penting dan akan berpengaruh terhadap psikologi kedua calon penganten. Banyak di antara calon penganten yang stress sebelum menikah, karena calon yang diidam-idamkan selama ini ternyata tidak jadi menikah dengan dirinya. Bahkan sebagian dari mereka bertengkar, dan tidak sedikit yang berakhir dengan kematian hanya karena memperebutkan pacar untuk dinikahinya. Sebagian lain, hari-harinya hanya diisi dengan pertengkaran mulut dengan orang tuanya atau pamannya, hanya karena dia belum mengijinkan anaknya untuk menikah karena mempunyai suatu pertimbangan. Bahkan tidak sedikit dari orang-orang yang tahu agama tergelincir dalam masalah yang satu ini. Mereka kadang menuduh orang tuanya telah menghalanginya untuk melaksanakan sunnah Rosulullah saw, padahal sebenarnya orang tuanya mengijinkan anaknya menikah dengan pasangan pilihannya, hanya saja waktunya belum pas untuk dilaksanakan dalam waktu dekat. Dan banyak lagi contoh-contoh yang menunjukkan bahwa calon penganten belum bisa memahami ayat di atas, bahwa semua pernikahan yang dilakukan oleh manusia di dunia ini tidak akan terjadi kecuali dengan ijin Allah swt.
Perlu diketahui bahwa Allah swt telah menentukan taqdir setiap makhluk di dunia ini jauh-jauh sebelumnya yaitu 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi ini, sebagaimana yang disebutkan dalam suatu hadist , bahwasanya Rosulullah saw bersabda ;
أول ما خلق الله القلم قال له: اكتب، فكتب مقادير كل شيء قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة، وكان عرشه على الماء
” Pertama kali yang diciptakan Allah adalah qalam ( pena ), Allah berfirman kepadanya ; ” Tulislah ” , maka dia menulis taqdir segala sesuatu semenjak 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi dan Arsy Allah di atas air. ‘ ( HR Muslim )
Hadist di atas menjelaskan secara tidak langsung bahwa istri kita telah ditentukan oleh Allah swt, jauh sebelum kita diciptakan di muka bumi ini, kalau kita mengetahui hal itu, kenapa harus stress ? , kenapa harus berebut pacar ? dan kenapa harus bertengkar dengan orang tua hanya karena belum menyetujui rencana penikahannya ?
Kaedah Kedua :
Bahwa istri yang akan kita nikahi nanti adalah dari jenis kita sendiri, yaitu dari jenis manusia, dan bukan dari jenis jin atau malaikat. Rahmat Allah swt seperti ini harus kita syukuri. Bayangkan kalau istri kita dari jenis jin, tentunya akan mendapatkan kesulitan untuk berhubungan dengannya. Kesulitan itu akan terasa sejak awal, bagaimana cara mengenalnya, bagaimana bentuk wajahnya, siapa yang akan menjadi walinya, maharnya berapa, mau tinggal dimana dan bagaimana berhubungan dengannya, bagaimana bentuk anaknya dan seabrek kesulitan-kesulitan lainnya.
Muncul suatu pertanyaan yang perlu jawaban segera : Apakah mungkin kita manusia bisa menikah dengan seorang jin ? dan bagaimana hukumnya dalam Islam ?
Imam Badru Ad Dien Abi Abdillah As Syibl di dalam bukunya ” Akam Al Marjan fi Ahkam Al Jan, telah menyebutkan beberapa riwayat para ulama yang menunjukkan bahwa manusia kemungkinan bisa menikah dengan Jin. ( [1] ) Hal yang sama juga disebutkan oleh Imam Suyuti dalam bukunya : ” Luqat Al Marjan fi Ahkam Al Jan “( [2] ) Hal ini dikuatkan juga dengan perkataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya : ” Seorang manusia kemungkinan bisa menikah dengan jin dan dari keduanya akan lahir seorang anak, dan hal seperti ini sangat banyak terjadi. ” ( [3] ) Ayat yang menunjukkan kemungkinan terjadinya pernikahan antara manusiaa dan jin adalah firman Allah swt :
وَشَارِكْهُمْ فِي الأَمْوَالِ وَالأَوْلادِ وَعِدْهُمْ
” Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. ” (Qs Al Isra’ : 56 )
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata ; ” Jika seorang laki-laki menggauli istrinya dalam keadaan haidh , maka syetan akan mendahuluinya, seandainya istrinya hamil, maka anak yang lahir akan menjadi anak yang banci (waria ) . ” ( [4] )
Walaupun demikian para ulama banyak berpendapat bahwa penikahan antara manusia dan jin hukumnya makruh, karena akan sulit menjalin tali kasih sayang antara keduanya. Dan hal seperti ini ,menurut Imam Malik, akan banyak membawa kerusakan yang luas dalam masyarakat, karena jika seorang wanita kedapatan hamil tanpa suami, akan dengan mudah dia mengatakan bahwa dia sudah punya suami dari jin. ( [5] ) Yang seperti ini, jelas akan membawa kerusakan di tengah-tengah masyarakat khususnya pada zaman sekarang .
Kaedah Ketiga :
Bahwa istri yang akan kita nikahi nanti adalah makhluk Allah yang diciptakan dari diri kita sendiri. Para ulama menyebutkan bahwa Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk nabi Adam as. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas bahwasanya ketika Adam tinggal di dalam syurga sendiri, dia merasa kesepian. Dan ketika dia sedang tidur, diciptakanlah Siti Hawa dari tulak rusuknya yang pendek dari pinggang kirinya , agar Adam bisa merasa tenang berada di samping Siti Hawa. Inilah arti firman Allah swt :
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا
“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” ( Qs Al A’raf : 189 )
Di dalam hadist Abu Hurairah ra bahwa Rosulullah saw bersabda :
( استوصوا بالنساء خيراً ، فإن المرأة خلقت من ضلع ، وإن أعوج ما في الضلع أعلاه ، فإن ذهبت تقيمه كسرته ، وإن تركته لم يزل أعوج ، فاستوصوا بالنساء ) ، وفي رواية ( المرأة كالضلع إن أقمتها كسرتها ، وإن استمتعت بها ، استمتعت وفيها عوج(
“Berwasiatlah kepada perempuan dengan hal-hal yang baik, sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulak rusuk, dan sesungguhnya bagian yang bengkok dari tulang rusuk terdapat disebelah atas, , dan jika anda ingin meluruskannya, berarti anda akan mematahkannya, dan jika anda biarkan maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah kepada perempuan. ( [6] )
Dan dalam riwayat lain disebutkan : ” perempuan itu bagaikan tulang rusuk, jika anda ingin meluruskannya, berarti anda akan mematahkannya, jika anda bersenang-senang dengannya, maka anda akan bersenang-senang dengannya, sedangkan dia masih dalam keadaan bengkok ” ( [7] )
Mungkin sebagian orang memahami bahwa penciptaan siti hawa dari tulak rusuk nabi Adam merupakan simbol diskriminasi dan pelecehan kaum hawa, sehingga mereka kurang bisa menerima isi hadist di atas, dan menganggapnya sebagai hadist yang bias gender. Sebenarnya, kalau mereka memahami hadist tersebut dengan baik, akan di dapatkan banyak hikmah dari diciptakannya Siti Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam. Diantara hikmah-hikmah itu adalah :
Pertama : Bahwa tulang rusuk dalam tubuh kita sebenarnya berfungsi untuk melindungi organ dada dan hati. Sebagaimana kita ketahui bahwa hati adalah bagian yang terpenting dalam tubuh kita. Artinya seorang perempuan bertugas untuk menjaga, membina dan mendidik hati orang, yaitu hati generasi dan anak didik kita. Inilah tabiat seorang perempuan, kita dapatkannya sabar dan tekun di dalam merawat anak-anak atau orang-orang yang lemah, serta orang-orang yang perlu perlindungan dan kasih sayang. Sifat seperti ini tidak dimiliki oleh laki-laki. Tulang rusuk artinya tulang yang melindungi bagian-bagian tubuh yang lemah. Selain itu, seorang perempuan juga melindungi kaum laki-laki ketika dia merasa tidak tenang, menemaninya ketika ia merasa kesepian, dan merawatnya ketika sedang sakit. Dari sini, seorang laki-laki tidak akan bisa merasakan hidup dengan sempurna tanpa kehadiran perempuan.
Kedua : Tulang rusuk ini bersifat bengkok. Kenapa harus bengkok ? Iya karena dengan bengkoknya tulang rusuk tersebut, maka hati atau bagian- bagian tubuh yang lemah tadi akan terlindungi dari arah lain. Jika tulang rusuk tersebut tidak bengkok, maka hati dan bagian tubuh lainnya akan dengan mudah mengalami luka-luka hanya dengan pukulan pelan saja, dan akan bisa menyebabkan kematian jika terkena pukulan atau benturan yang lebih keras.
Ketiga : Tulang rusuk yang bengkok itu juga menandakan bahwa kaum perempuan itu mempunyai sifat yang mengedepankan perasaan daripada akal. Oleh karenanya, kaum perempuan kurang tepat, jika ditempatkan pada beberapa posisi yang menuntut ketegasan dan kekerasan , seperti dalam memimpin Negara atau bekerja di tempat-tempat kasar.
Keempat : Dalam hadist disebutkan bahwa seorang laki-laki akan sangat sulit untuk meluruskan tulang yang bengkok tersebut. Artinya seorang laki-laki di dalam berhubungan dengan perempuan harus bersifat lembut dan tidak kasar. Mendidik merekapun harus pelan-pelan dan sabar , tidak bisa dilakukan dengan tangan besi. Oleh karenanya, Rosulullah saw berwasiat agar kaum laki-laki memperlakukan perempuan dengan baik. Dalam kehidupan keluarga, jika seorang suami ingin memaksakan kehendaknya kepada istrinya dengan paksaan dan kekerasaan maka akan berakibat fatal, dan tidak sedikit yang berakhir dengan perceraian.
Kelima : Tulang rusuk yang bengkok juga menunjukkan bahwa kaum perempuan itu mempunyai kekurangan dalam akal dan ibadatnya. Maksud kurang akal di sini, sebagaimana diterangkan di atas, bahwa perempuan lebih mengedepankan perasaan dari pada laki-laki, maka dalam persaksian seorang laki-laki sebanding dengan dua perempuan. Dalam masalah pernikahan, seorang perempuan harus mempunyai wali laki-laki, karena tingginya perasaanya, seorang perempuan mudah dipermainkan dan ditipu oleh orang lain. Berbeda dengan laki-laki, dia dibolehkan melakukan pernikahan tanpa perantara seorang wali. Dan yang dimaksud kurang ibadatnya adalah bahwa seorang perempuan sering meninggalkan kewajiban ibadat sholat atau puasa atau yang lainnya, karena ada halangan syar’I seperti datangnya bulan ( keluarnya darah haidh ) atau darah nifas setelah melahirkan.
Kaedah Keempat :
Salah satu fungsi dari pernikahan adalah mewujudkan ketenangan. Ketenangan yang di dapat seseorang dari pernikahan bisa diklasifikasikan menjadi tiga :
Pertama : Ketenangan Jiwa.
Banyak fakta menyebutkan bahwa rata-rata orang yang sudah dewasa dan belum menikah, mereka mengalami kegoncangan jiwa, karena ada sesuatu yang kurang pada diri mereka. Mereka merindukan teman hidup yang memperhatikan kehidupan mereka. Kegonjangan jiwa itu akan terus berlanjut sampai mereka mendapatkan teman hidup yang sesuai dengan yang mereka inginkan.
Di sini pernikahan adalah salah satu jalan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendapatkan ketenangan. Seorang laki-laki yang merasa capek dan penat karena seharian kerja mencari nafkah, ketika kembali ke rumah, tiba- tiba hatinya menjadi sejuk dan tenang, karena di depan pintu rumahnya telah disambut istrinya dengan senyuman. Ketika ia lapar, tiba-tiba di meja makan sudah tersedia aneka macam masakan yang disediakan istrinya. Selain itu, di dalam pernikahan seseorang bisa membicarakan dengan pasangannya seluruh masalah-masalah yang dihadapinya di kantor, di pasar di sekolah maupun di tempat-tempat lainnya. Dengan leluasa masing-masing dari suami istri mengeluarkan unek-uneknya dengan hati dalam suasana yang tenang dan penuh rasa kekeluargaan.
Hal yang demikian ini jelas akan berdampak pada ketenangan jiwa. Karena masing-masing telah mendapatkan tempat untuk mengadukan segala problematika hidupnya. Ketenangan jiwa seperti ini akhirnya akan membawa pada ketenangan jasmani.
Kedua : Ketenangan Jasmani.
Banyak para ahli menyebutkan bahwa di sana ada hubungan sangat erat antara kesehatan ruhani dengan kesehatan jasmani. Seseorang yang selalu dirundung kesedihan di dalam hidupnya, akan melemahkan kesehatan jasmaninya. Salah satu contoh sederhana adalah seseorang yang terkena penyakit maagh. Jika ia sedang memikirkan sesuatu yang agak rumit, biasanya maagh-nya akan kambuh. Orang yang terkena penyakit jantung, ketika mendengar bahwa orang yang dicintainya tertabrak mobil, bisa mati seketika karena kaget. Begitu juga orang yang sudah menikah dan merasakan kebahagiaan di dalamnya, biasanya jarang terkena penyakit dalam.
Selain itu sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa ulama, bahwa air mani yang tersimpan lama dalam tubuh seseorang dan tidak disalurkan akan menyebabkan penyakit. Dalam kehidupan ini ada suatu kaedah : bahwa sesuatu yang berhenti dan tidak dialirkan, maka akan merusak. Air yang tergenang akan merusak, tapi jika dialirkan akan bermanfaat karena akan membentuk energi yang bisa menyalakan lampu. Dalam fikih kita temukan juga bahwa air sungai yang tidak mengalir akan menjadi najis dan tidak boleh digunakan untuk bersuci. Jika ia mengalir, boleh untuk bersuci. Seseorang yang tergeletak tidur di atas kasur berbulan-bulan lamanya, bisa lumpuh kakinya, karena tidak dilatih untuk berjalan. Bahkan badan kita yang tidak digerakkan dengan olah raga, akan terasa pegal dan berat, dan begitu seterusnya. Maka air mani yang ada dalam tubuh seseorang jika disalurkan pada yang halal, selain akan menghilangkan penyakit, air mani tersebut akan berubah menjadisebuah janin yang ada di perut istrinya. Betapa besar perbedaan antara keduanya, yang satu merusak dan menimbulkan penyakit , sedang yang lain menyembuhkan dan mewujudkan generasi baru.
Ketiga : Ketenangan Materi.
Orang yang menikah akan mendapatkan ketenangan materi. Ketenangan materi ini terwujud dalam tiga hal :
Yang Pertama : Dalam hadist disebutkan bahwa Rosulullah saw bersabda :
الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة
” Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah . ” ( HR Muslim )
Hadist diatas menerangkan bahwa hakikat dunia ini adalah perhiasan. Perhiasan adalah salah satu bentuk materi yang dikejar oleh manusia. Karena kebanyakan manusia mengira bahwa perhiasan dunia ini akan membawa kebahagian hidup. Akan tetapi Rosulullah menjelaskan juga bahwa hakikat perhiasan yang bisa membawa ketenangan adalah wanita sholelah.
Oleh karenanya, banyak kita dapatkan seseorang yang tidak mempunyai harta banyak, tetapi mempunyai istri sholehah, dia jauh lebih berbahagia di dalam hidupnya dibanding dengan orang yang kaya tetapi istri tidak sholehah. Inilah arti pertama bahwa istri sholehah merupakan wujud dari ketenangan materi.
Yang Kedua : Istri yang sholehah atau suami yang sholeh adalah orang yang selalu dekat dengan Allah. Dia akan selalu meningkatkan ketaqwaanya kepada Allah swt dengan menjalankan perintah-NYa dan menjauhi larangan-Nya. Orang seperti akan membawa barakah dalam rumah tangga. Ketika ia berdoa mohon rizki kepada Allah, maka Allah akan mengabulkannya, sehingga istri atau suami yang seperti ini akan membawa rizki yang berlimpah dan barakah.
Yang Ketiga : Allah swt telah berfirman :
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
” Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui ” ( Qs An Nur : 32 ) .
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa orang yang mau menikah dengan niat mencari ridha Allah dan menghindari maksiat, maka Allah berjanji akan memberikan karunia kepada mereka dengan rizki yang halal. Dan kita sebagai orang Islam harus berkeyakinan seperti yang disebutkan Allah di dalam ayat di atas.
Selain itu, kalau ditinjau dari ilmu psikologi dan sosiologi, maka akan kita dapatkan seorang laki-laki yang sepanjang hidupnya, hidup dalam kemiskinan, ketika menikah tiba-tiba menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Kenapa ? Karena dengan menikah, dia dituntut untuk memberikan nafkah kepada istrinya. Kewajiban tersebut menuntutnya untuk bekerja keras. Selain ia mendapatkan pahala karena bekerja untuk memberikan nafkah keluarganya, juga Allah akan melimpahkan rizki yang halal kepadanya, karena kesungguhannya. Allah berfirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
” Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. ” ( Qs Al Ankabut : 69 )
Kaedah Kelima :
Bahwa cinta yang tumbuh dalam pernikahan bukan sekedar cinta jasmani, atau cinta seorang laki-laki terhadap perempuan sebagaimana yang dipahami orang selama ini. Bukan pula seperti cinta seorang pacar dengan pacarnya yang sekedar janji dan ungkapan mulut tanpa ada komitmen di dalamnya. Cinta dalam pernikahan adalah cinta yang dibangun diatas mawaddah dan rahmah ( kasih dan sayang ). Artinya cinta tersebut diiringi dengan tanggung jawab dan komitmen. Seorang suami yang mencintai istrinya, maka dia bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidupnya, dia harus menjaga kesehatannya, menjaga keamanannya, menjaga perasaannya, dan menjaganya supaya tetap selalu bahagia hidup bersamanya .
Cinta dalam pernikahan bukan berarti dia pasti mencintai semua yang ada pada diri pasangannya, karena seperti ini adalah sesuatu yang mustahil. Masing-masing dari pasangan suami istri akan mendapatkan kekurangan dari pasangannya. Secara naluri manusia, dia akan membenci kekurangan tersebut, Cuma dia harus bersabar dengan kekurangan itu. Dia harus berusaha bagaimana kekurangan yang dimiliki pasangannya tetap membuatnya cinta dan sayang kepadanya. Maka dalam surat An Nisa’ ayat 19 , Allah berfirman :
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
” Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. ”
Melalui ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk menggauli dan bersikap dengan istri kita secara patut dan baik, walaupun kita membenci sebagian sifat atau bagian dari badannya. Inilah yang dinamakan mawaddah dan rahmah, yaitu cinta kasih sayang yang diiringi dengan komitmen dan tanggung jawab serta kesabaran untuk menerima segala kekurangan. Maka sangat tepat kalau Allah menyebut bahwa dalam pernikahan bukan sekedar ” hubb ” ( cinta jasmani ), akan tetapi lebih daripada itu, yaitu mawaddah wa rahmah ( cinta kasih sayang dan komitmen ) .
Yang perlu disebutkan juga di sini bahwa cinta kasih sayang dalam pernikahan ini yang menumbuhkannya adalah Allah swt. Tanpa pertolongan Allah, kedua pasangan suami istri tidak akan mungkin bisa mengukir kecintaan dan kasih sayang di dalam kehidupan rumah tangga. Ayat dalam surat rum di atas juga dengan sendirinya akan menolak falsafat pacaran yang menyiratkan bahwa kecintaan antara laki-laki dan perempuan harus ditumbuhkan oleh masing-masing pasangan. Hal ini dikuatkan dengan banyaknya fakta yang menunjukkan bahwa orang-orang yang menikah tanpa didahului dengan pacaran ternyata justru malah lebih harmonis, lebih hangat, dan lebih langgeng serta lebih bahagia. Hal itu dikarenakan Allah-lah yang menciptakan dan menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang pada diri kedua pasangan.
Lima kaedah pernikahan yang sudah diterangkan di atas, sebenarnya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang hanya bisa dicerna oleh orang-orang yang terus mau berfikir. Sebagaimana yang disebutkan Allah pada akhir ayat : ” Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mau berfikir . ” Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Kairo, Sabtu Pagi, 28 April 2007 M

* Asal makalah ini adalah ceramah yang disampaikan penulis pada acara resepsi pernikahan dua orang mahasiswa/I Al Azhar, pada tanggal 15 Juli 2006 M , di Aula Masjid As- Salam, Nasr City, Kairo, Mesir
)[1] ) Lihat Badru Ad Dien Abi Abdillah As Syibly, Akam Al Marjan fi Ahkam Al Jan ( Beirut, Dar Ibnu Zaidun, 1405 H ) , Hal. 94-96.
)[2] ) sebagaimana yang dinukil oleh Prof. DR. Umar Sulaiman Al Asyqar di dalam bukunya, Alam Al Jin wa As Syayatin, ( Kairo, Dar As Salam, 2005 ) Hal. 30
)[3] ) Ibnu Taimiyah, Majmu Al Fatawa ( Riyad, TP, 1381 H ) Cet. Pertama, Juz ; IX, Hal. 39
)[4] ) Lihat Badru Ad Dien Abi Abdillah As Syibly, Op. Cit., hal. 91 .
)[5] ) Lihat Badru Ad Dien Abi Abdillah As Syibly, Op. Cit., Hal. 92
)[6] ) Hadits riwayat Bukhari, no : 3331, dan muslim no : 1468
)[7] ) Hadits riwayat Bukhari, no : 5184 , dan muslim no : 1468

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost